Penerapan Model Wallas untuk Mengidentifikasi Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika Peserta Didik Kelas XI IPA SMA N 1 Kedungwuni Materi Pokok Fungsi Komposisi


Jayanti Putri Purwaningrum, 4101408060 (2012) Penerapan Model Wallas untuk Mengidentifikasi Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika Peserta Didik Kelas XI IPA SMA N 1 Kedungwuni Materi Pokok Fungsi Komposisi. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[thumbnail of Penerapan Model Wallas untuk Mengidentifikasi Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika Peserta Didik Kelas XI IPA SMA N 1 Kedungwuni Materi Pokok Fungsi Komposisi] Microsoft Word (Penerapan Model Wallas untuk Mengidentifikasi Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika Peserta Didik Kelas XI IPA SMA N 1 Kedungwuni Materi Pokok Fungsi Komposisi) - Published Version
Download (30kB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi proses berpikir kreatif peserta didik dengan penerapan model Wallas. Model Wallas merupakan teori proses berpikir kreatif yang meliputi tahap (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) illuminasi, dan (4) verifikasi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berbasis tugas. Tugas tersebut merupakan tugas pengajuan masalah. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPA 2 SMA N 1 Kedungwuni berjumlah empat belas orang. Prosedur pengumpulan datanya yaitu: (1) validasi, (2) tes penjajakan 1, (3) pembelajaran tiga kali, (4) tpm 1, (5) tes penjajakan 2, (6) wawancara berbasis tugas, (7) tpm 2 dan (8) catatan lapangan. Penelitian ini akhirnya menghasilkan identifikasi proses berpikir kreatif dalam pengajuan masalah matematika dengan penerapan model Wallas peserta didik kelas XI IPA SMA N 1 Kedungwuni materi pokok fungsi komposisi adalah dalam kelompok tidak kreatif rendah, pada tahap persiapan peserta didik kurang memahami informasi yang diberikan tetapi mampu menyelesaikan tugas pengajuan masalah. Selain itu, peserta didik mengaitkan tugas yang dikerjakan pada materi yang pernah diterima di sekolah. Pada tahap inkubasi, peserta didik cenderung berhenti sejenak dan membayangkan soal yang akan dibuat. Waktu yang diperlukan untuk memunculkan ide relatif lama. Pada tahap iluminasi, peserta didik mendapatkan ide yang didapat dan menerapkannya untuk menyelesaikan soal. Selain itu, peserta didik yakin terhadap penyelesaian soal yang telah dibuat. Penyelesaian yang dikerjakan sebagian besar benar. Ketika menerapkan pemikiran yang dibentuknya, peserta didik mengalami kesulitan pada saat mengerjakan soal yang dibuatnya. Pada tahap verifikasi, peserta didik tidak memeriksa ulang soal yang dibuat. Hal yang dilakukannya ketika menemui kesalahan dalam mengerjakan adalah memperbaiki soal jika salah menulis angkanya atau memperbaiki soal dengan mengganti angka agar soal mudah diselesaikan serta memperbaiki dengan mengerjakan kembali soal tersebut sampai benar jika salah menghitung. Berdasar hasil penelitian, maka identifikasi proses berpikir kreatif siswa dapat dijadikan sebagai pedoman guru dalam mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam berpikir kreatif dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan guru dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Model Wallas, pengajuan masalah, proses berpikir kreatif
Subjects: L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
Q Science > QA Mathematics
Fakultas: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Pendidikan Matematika, S1
Depositing User: Hapsoro Adi Perpus
Date Deposited: 27 Aug 2012 18:27
Last Modified: 27 Aug 2012 18:27
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/14487

Actions (login required)

View Item View Item