PERAN TOKOH TIONGHOA DI ORGANISASI SOSIAL PERKUMPULAN MASYARAKAT SURAKARTA (PMS) DALAM MEMBINA KERUKUNAN ANTARETNIS DI KOTA SURAKARTA

LULUK WULANDARI, 0301513027 (2015) PERAN TOKOH TIONGHOA DI ORGANISASI SOSIAL PERKUMPULAN MASYARAKAT SURAKARTA (PMS) DALAM MEMBINA KERUKUNAN ANTARETNIS DI KOTA SURAKARTA. Masters thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF
Download (449Kb)

    Abstract

    Kota Surakarta sering disebut sebagai daerah yang rawan konflik, terutama antara etnis Jawa dan Tionghoa. Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) telah ada sejak tahun 1932, awalnya adalah yayasan kematian dan seiring berjalannya waktu, organisasi ini tidak hanya mengurusi kebutuhan orang Tionghoa saja, melainkan berkiprah di tingkat Surakarta dengan delapan bidang kerjanya. Tujuan penelitian ini mengkaji peran tokoh Tionghoa di PMS dalam membina kerukunan antaretnis di Surakarta, bagaimana keseharian pengurus ketika ada di lingkungan Tionghoa dan bagaimana ketika berada di lingkungan sosial, yang kedua mengkaji peran tokoh PMS dalam mengembangkan pendidikan multikultural, dan mengakaji tanggapan masyarakat mengenai kiprah tokoh PMS di Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan mengambil lokasi di gedung perkumpulan PMS. Beberapa informan bersedia diwawancarai di tempat kerja atau di rumah masing-masing. Data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder, data primer didapat dari wawancara, pengamatan, sedangkan data sekunder didapatkan dari dokumen tabloid terbitan PMS, harian Solo Pos, serta harian Suara Merdeka. Sumber data penelitian yakni informan yang terdiri pengurus PMS baik lama maupun baru dan beberapa tokoh masyarakat yang bidang tugasnya sering berinteraksi dengan kegiatan yang diadakan PMS. Metode pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMS dimaknai berbeda antar pengurus, masing-masing memiliki tujuan berbeda ketika memutuskan untuk bergabung menjadi pengurus, panggilan hati (jiwa sosial), membangun jaringan bisnis, dan pengalaman konflik menjadi alasan tokoh Tionghoa bergabung di PMS. Kegiatan PMS di bidang pendidikan multikultural tidak dalam bentuk pendidikan formal sepeeti sekolah pada uumnya. Tetapi tertuang dalam kegiatan bidang kesenian, olahraga, kesehatan dan pendidikan. Sedangkan tanggapan masyarakat menunjukkan mereka sangat mengapresiasi kehadiran PMS dengan kegiatannya.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Fakultas: Pasca Sarjana > Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial S2
    Depositing User: A.Md Angga Rizky Purwandra
    Date Deposited: 03 May 2017 10:40
    Last Modified: 03 May 2017 10:40

    Actions (login required)

    View Item