POSISI TAWAR PEREMPUAN TERHADAP LAKI-LAKI DALAM ROMAN NONA SEKRETARIS KARYA SUPARTO BRATA

Padhang Pranoto, 2151406013 (2013) POSISI TAWAR PEREMPUAN TERHADAP LAKI-LAKI DALAM ROMAN NONA SEKRETARIS KARYA SUPARTO BRATA. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (POSISI TAWAR PEREMPUAN TERHADAP LAKI-LAKI DALAM ROMAN NONA SEKRETARIS KARYA SUPARTO BRATA) - Published Version
Download (540Kb)

    Abstract

    Penelitian yang mengkaji roman karya Suparto Brata bertajuk Nona Sekretaris mengetengahkan topik dimana perempuan di mata masyarakat, digambarkan sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada laki-laki. Gambaran ini bukan saja dalam ranah pribadi namun meluas ke dunia pekerjaan, ini karena kentalnya hegemoni patriarki. Rumusan masalah penelitian ini yaitu, (1) bagaimana relasi perempuan dan laki-laki yang tergambar dalam roman tersebut, (2) bagaimana perempuan melihat posisinya terhadap laki-laki, (3) sampai pada tataran apa hegemoni patriarki memengaruhi relasi perempuan dan laki-laki, (4) upaya apa yang dilakukan oleh perempuan untuk meningkatkan posisi tawar mereka terhadap lakilaki. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan dialektika teks yang menggunakan oposisi biner sebagai teknik analisis datanya. Hasil penelitian ini menunjukkan: a. Relasi perempuan dan laki-laki terbagi menjadi dua yakni, relasi profesional dan relasi pribadi. Dalam dunia profesional peran perempuan diakui sebagaimana mestinya seorang manusia. Namun pada tataran pribadi perempuan masih ditempatkan pada posisi yang masih rendah dibandingkan laki-laki. Tokoh Julaeha dan Normasari termasuk tokoh yang masih mengukuhkan status quo kuasa laki-laki, sedangkan tokoh Sirtu mewakili sikap perempuan yang memiliki pandangan bahwa perempuan juga memunyai posisi setara sebagai seorang manusia sebagaimana laki-laki; b. Tokoh Normasari, Julaeha, dan Ibu masih menganggap rendah posisinya dibanding lakilaki sedangkan Sirtu melihat posisinya terhadap laki-laki sebagai mitra; c. pengaruh ideologi patriarki terhadap relasi perempuan dan laki-laki tergambar dalam tiga dimensi budaya hegemonik menurut Williams, Tokoh Sirtu tergolong dimensi budaya bangkit (emergent) karena mengadopsi nilai-nilai baru yang sesuai dengan nilai kesetaraan relasi perempuan dan laki-laki, sedangkan tokoh Normasari, dan Julaeha masuk dalam budaya residual karena masih menjalani nilai endapan ajaran dari masa lalu. Dimensi budaya dominan adalah tokoh Bathara, Ugrasamsi, Danang, dan Pambudi; d.para tokoh perempuan di roman ini menaikan daya tawar mereka terhadap laki-laki dengan memiliki ketrampilan serta keuletan dalam hal pekerjaan serta sikap dan tingkah laku dalam hubungannya dengan tokoh laki-laki. Dari hasil penelitian di atas hendaknya dapat mengungkap ideologi patriarki yang masih bersemayam dalam masyarakat, sekaligus menyadarkan kita akan nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini sebagai landasan awal untuk mengembangkan ilmu kritik sastra, namun begitu karya Suparto Brata ini masih bisa diteliti lebih lanjut dengan pisau analisis yang berbeda dengan penelitian ini.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: posisi tawar, perempuan, laki-laki, hegemoni, patriarki
    Subjects: P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures > PI1 Indonesia > Sastra
    Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Sastra Jawa (S1)
    Depositing User: budi santoso perpustakaan
    Date Deposited: 23 Jan 2014 05:36
    Last Modified: 23 Jan 2014 05:36

    Actions (login required)

    View Item