LAKU SPIRITUAL PENGANUT AJARAN KEROKHANIAN “SAPTA DARMA” (Kasus Sanggar Candi Busono Kec. Kedung Mundu, Semarang)

Muh. Luthfi Anshori, 3501408021 (2013) LAKU SPIRITUAL PENGANUT AJARAN KEROKHANIAN “SAPTA DARMA” (Kasus Sanggar Candi Busono Kec. Kedung Mundu, Semarang). Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (LAKU SPIRITUAL PENGANUT AJARAN KEROKHANIAN “SAPTA DARMA” (Kasus Sanggar Candi Busono Kec. Kedung Mundu, Semarang))
Download (661Kb)

    Abstract

    Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Semarang adalah Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma”. Keberadaan ajaran kerokhanian “Sapta Darma” di Semarang dalam laku ritual maupun laku spiritual telah menjadi aset nilai budaya bangsa yang tidak ternilai harganya. Keberadaan ajaran kerokhanian “Sapta Darma” menjadi unik ketika kepercayaan ini tumbuh di antara masyarakat di kota semarang yang mayoritas memeluk agama yang telah di sahkan oleh pemerintah. Permasalahan yang di kaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah Laku spiritual dan laku ritual yang dilakukan oleh Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma”?, (2) Apa saja faktor pendorong dan penghambat eksistensi Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma”?. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan, laku spiritual dan laku ritual, faktor pendorong dan penghambat. Penelitian ini menggunakan konsep ritual serta kepercayaan dengan menggunakan metode kualitatif dengan Pendekatan Fenomenologi. Lokasi penelitian berada di wilayah Kedung Mundu, Semarang. Subjek penelitian adalah Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma” di Kedung Mundu, Semarang. Pengumpulan data memakai observasi, wawancara, dokumentasi. Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai metode analisis data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keberadaan Penganut Ajaran Kerokhanian “”Sapta Darma” di Semarang masih ada dan dilestarikan. Laku spiritual mengacu pada kepercayaan kepada Allah Hyang Maha Agung yang menjadikan ketentraman batin. Laku ritual yang dilaksanakan antara lain ritual sujud, ritual racut, dan ritual hening. Faktor pendorong: keinginan melestarikan warisan leluhur, pitutur para leluhur, peraturan negara tentang Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Faktor penghambat: pengaruh negatif, generasi muda kurang tertarik untuk menghayati, minimnya pembinaan pemerintah. Disimpulkan bahwa Penganut Ajaran kerokhanian “Sapta Darma” menjadi aktual dan terasa keberadaannya setelah Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma” dipercayai dan diyakini serta ketika kepercayaan tersebut telah memantulkan ajarannya dalam hubungan sosial dalam masyarakat. Laku spiritual dan laku ritual merupakan perwujudan dari se-perangkat ide dan aktifitas yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Faktor pendorong dan penghambat keberadaan Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma” terkait dengan kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma”. Maka dari itu, perlunya pelestarian oleh berbagai pihak, generasi muda lebih memantapkan diri dalam meyakini kepercayaannya, meningkatkan toleransi antar umat beragama, dan pemerintah lebih menjamin kehidupan religius Penganut Ajaran Kerokhanian “Sapta Darma”.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: Keberadaan, Ajaran Kerokhanian, Sapta Darma
    Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
    H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
    Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, S1
    Depositing User: Users 22789 not found.
    Date Deposited: 30 Oct 2013 13:06
    Last Modified: 30 Oct 2013 13:06

    Actions (login required)

    View Item