MAKNA WARAK NGENDOG DALAM TRADISI RITUAL DUGDERAN DI KOTA SEMARANG

SUPRAMONO, 2001502002 (2007) MAKNA WARAK NGENDOG DALAM TRADISI RITUAL DUGDERAN DI KOTA SEMARANG. Masters thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (MAKNA WARAK NGENDOG DALAM TRADISI RITUAL DUGDERAN DI KOTA SEMARANG) - Published Version
Download (1951Kb)

    Abstract

    Tesis ini mengkaji secara semiotik salah satu ritual penyambutan puasa Ramadhan yang dilakukan masyarakat Semarang. Ritual Dugderan dengan simbol utama berupa karya seni rupa Warak Ngendog telah dimulai sejak tahun 1881 M di masa pemerintahan Bupati Semarang RMT Purbaningrat dan pengaruh ulama besar Kyai Saleh Darat, pendiri Pesantren Darat sekaligus penulis ”Kitab Kuning”. Ritual dan simbol-simbol yang ada merupakan sinergi gagasan dari umara dan ulama besar tersebut. Dugderan dilaksanakan sebagai ritual pengumuman dan penyambutan Bulan Ramadhan, bulan mulia bagi umat muslim. Dugderan dan Warak Ngendok merupakan artifact atau wujud fisik kebudayaan masyarakat Semarang yang mengintegrasikan budaya Jawa dan Islam. Tujuan tesis ini adalah untuk mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan: a) penyelenggaraan ritual Dugderan dan penciptaan Warak Ngendog dalam rangka memenuhi kebutuhan estetis masyarakat Semarang, b) faktor ekstraestetis yang mendorong dan mempengaruhi terciptanya Warak Ngendog, serta c) nilai-nilai yang terkandung dalam Warak Ngendog dari kajian semiotik. Penelitian dalam tesis ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Segala permasalahan diidentifikasi, dibahas, dan dikaji secara mendalam untuk memperoleh penjelasan tentang hal–hal yang berhubungan dengan permasalahan. Sasaran penelitian ini adalah karya seni Warak Ngendog untuk dikaji nilai–nilai estetis dan simbolisnya. Selanjutnya secara integratif dikaji pula keberadaannya sebagai karya seni ritual masyarakat Semarang, proses penciptaan, dan penyajian karya seni Warak Ngendog. Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Tempat penelitian adalah wilayah Kota Semarang Jawa Tengah. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, yaitu mengamati dan melakukan catatan–catatan secara langsung pada obyek penelitian, pemotretan dan sketsa atau gambar yang relevan. Wawancara dilakukan secara terencana dan bebas. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang mengedepankan pernyataan–pernyataan deskriptif. Guna menganalisis simbol-simbol yang ada pada karya Warak Ngendog diterapkanlah pendekatan semiotik. Teknik analisis yang digunakan adalah sintaksis semiosis, semantik semiosis, dan pragmatis semiosis. Warak Ngendok dianalisis sintaksis dan semantiknya lewat kata sebutannya, bentuk, dan penyajiannya. Ada 4 (empat) ketentuan baku tentang bentuk dasar estetis dan makna simbolisnya, yaitu kepala binatang yang menakutkan, bulu yang menyolok dan tersusun terbalik, tubuh yang dapat dipanggul dan dinaiki, serta adanya endhog (Jawa: telur). Penyajiannya adalah 1) dalam wujud binatang khayal, terstruktur tertentu, dan tidak permanen, 2) menjadi bagian dari ritual Dugderan dengan waktu, tempat, dan urutan yang telah disepakati, dan 3) disajikan dengan cara dipanggul serta dinaiki orang pada punggungnya. Secara pragmatik, nama, bentuk, dan penyajian karya Warak Ngendog memberi ajaran pada manusia, khususnya umat muslim untuk selalu taat pada perintah-perintah agama dan menjaga diri dari perilaku-perilaku maksiat lewat mengendalikan hawa nafsu serta mengganti perilaku buruk dengan perilaku-perilaku terpuji. Bila semua itu dilaksanakan niscaya balasan kenikmatan, pahala, dan surga akan dilimpahkan Allah Swt. Melalui analisis semiotik terhadap nilai-nilai estetis simbolis Warak Ngendog dapat disimpulkan, bahwa Warak Ngendog muncul dari keterkaitan antarunsur adanya wara-wara (Jawa: berita) penting Sang Bupati Semarang, pesan-pesan agama berupa ajakan wara (Arab: taat atau menjaga), serta kesepakatan nama, bentuk, dan penyajian tertentu yang sangat menarik perhatian dalam konteks estetika dan simbol Jawa dan Islam. Jadi, Warak Ngendog adalah sebuah karya seni rupa pada ritual Dugderan yang berfungsi sebagai media dakwah simbolik bagi masyarakat. Selain sebagai simbol penegasan awal puasa Ramadan, makna yang terkandung adalah nasehat untuk mengendalikan hawa nafsu, mengganti perilaku buruk dengan perilaku baik, dan meningkatkan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Uncontrolled Keywords: Budaya, karya seni rupa ritual, estetika, dan simbol
    Subjects: L Education > L Education (General)
    N Fine Arts > NX Arts in general
    Fakultas: Pasca Sarjana > Pendidikan Seni, S2
    Depositing User: S.Kom Heru Setyanto
    Date Deposited: 29 May 2013 22:23
    Last Modified: 29 May 2013 22:23

    Actions (login required)

    View Item