Interpretasi Lambang-Lambang Kemiskinan: Kajian Semiotika Peirce dalam Kumpulan Cerpen Klop Karya Putu Wijaya

Muhammad Wahyu Amiruddin, 2150407020 (2012) Interpretasi Lambang-Lambang Kemiskinan: Kajian Semiotika Peirce dalam Kumpulan Cerpen Klop Karya Putu Wijaya. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

Abstract

Kumpulan cerpen Klop memaparkan keadaan masyarakat yang berada di kasta sosial terendah yang diidentikkan dengan keadaan masyarakat miskin. Kemiskinan menjadi perhatian utama pengarang dalam buku kumpulan cerpen ini. Tema kemiskinan diungkapkan pengarang melalui latar belakang tokoh yang berbeda-beda dan melalui cara eksplorasi simbol-simbol yang berbeda pula. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana bentuk-bentuk kemiskinan yang terdapat dalam kumpulan cerpen Klop Karya Putu Wijaya, (2) bagaimana interpretasi lambang-lambang kemiskinan dalam kumpulan cerpen Klop karya Putu Wijaya dengan kajian semiotika Peirce. Berkaitan dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan (1) mengungkapkan bentuk-bentuk kemiskinan yang terdapat dalam kumpulan cerpen Klop karya Putu Wijaya (2) mengungkap makna lambang-lambang kemiskinan dalam kumpulan cerpen Klop karya Putu Wijaya dengan teori semiotika Peirce. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semiotika Peirce yang memfokuskan pada makna dan tanda dalam karya sastra. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menentukan cerpen yang akan dikaji, mengkaji cerpen yang mengandung lambang kemiskinan, menguraikan bentuk-bentuk kemiskinan yang termuat di dalam kumpulan cerpen Klop. Selanjutnya, mengungkap makna lambang-lambang kemiskinan yang terdapat di dalam kumpulan cerpen Klop karya Putu Wijaya menggunakan teori semiotika, yaitu dengan menentukan tanda yang memungkinkan mempunyai makna. Persoalan kemiskinan dalam kumpulan cerpen ini dikategorikan menjadi empat bentuk yaitu absolut, relatif, kultural, dan struktural. 1) Kemiskinan absolut dalam kumpulan cerpen ini terdapat pada cerpen Mayat dan Raja. Dalam cerpen Mayat kemiskinan absolut dipaparkan pada tokoh penjaga kantor yang bekerja dengan upah rendah untuk menghidupi istri dan sepuluh orang anaknya. Dalam cerpen Raja diungkapkan rakyat yang menganggap beras sebagai nyawa. 2) Kemiskinan relatif ini dipaparkan pada cerpen Kroco, KTP, dan Kembali. Pada cerpen Kroco diungkapkan pendidikan yang mahal untuk kaum miskin. Pada cerpen KTP dipaparkan tokoh pemuda dalam cerpen ini menanggung beban istri dan tujuh anak yang sedang kelaparan. Pada cerpen Kembali ditunjukkan pada tokoh Maman yang sulit mencari pekerjaan karena dampak terjadinya krisis pada negara maju. 3) Kemiskinan kultural dipaparkan pada cerpen berjudul Nyahok. Pada cerpen ini dipaparkan kemiskinan karena etos kerja malas yang ditunjukkan orang-orang pedalaman. 4) Kemiskinan struktural dipaparkan dalam cerpen Surat Kepada Setan dan Siapa. Dalam cerpen Surat Kepada Setan dipaparkan perempuan-perempuan yang menjadi korban dari kebijakan pemerintah. Dalam cerpen Siapa dipaparkan tokoh miskin yang mempertanyakan statusnya sebagai rakyat di tengah konflik antara mahasiswa dan pemerintah. Tanda-tanda kemiskinan dalam kumpulan cerpen Klop diungkap maknanya melalui teori semiotika Peirce. Pengungkapan makna menggunakan metode triadik Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol. 1) Ikon dalam kumpulan cerpen Klop terdapat pada cerpen Kroco, Surat kepada setan, Mayat, Siapa, dan KTP. Cerpen Kroco menunjukkan situasi rakyat kecil pada masa orde baru. Kata “Kroco” mempunyai makna rakyat yang berada di strata sosial paling rendah. Cerpen Surat Kepada Setan menunjukkan adanya makna rakyat yang dilanda bencana lapar. Cerpen Mayat menunjukkan makna rakyat miskin yang berkewajiban menjalankan perannya sebagai rakyat, tetapi ia tidak mendapatkan haknya sebagai rakyat. Cerpen Siapa menunjukkan makna ketidakjelasan posisi rakyat di antara kubu yang memperjuangkan haknya. Cerpen KTP menunjukkan makna keadaan miskin yang membuat orang menghalalkan segala cara. 2) Indeks termuat dalam cerpen Kroco dan Raja. Indeks pada cerpen Kroco menunjukkan makna mahalnya pendidikan bagi kaum miskin. Indeks pada cerpen Raja bermakna keadaan rakyat yang kelaparan di negeri yang melimpah pangan. 3) Simbol terdapat dalam cerpen Kembali dan Nyahok. Pada cerpen Kembali menunjukkan makna kekhawatiran terhadap bencana multidimensi yang akan melanda rakyat. Cerpen Nyahok menunjukkan makna perbedaan cara pandang terhadap etos kerja. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi perkembangan penelitian berikutnya yang hendak mengkaji cerpen-cerpen karya Putu Wijaya dengan teori yang lain. Alangkah lebih baiknya pembaca karya-karya Putu Wijaya memahami konteks yang ada dalam karya tersebut, sehingga memunculkan makna yang disampaikan pengarang.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: kemiskinan, bentuk-bentuk kemiskinan, semiotika peirce
Subjects: P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures > PI1 Indonesia
P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures > PI1 Indonesia > Sastra
Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Sastra Jawa (S1)
Depositing User: budi santoso perpustakaan
Date Deposited: 27 Aug 2012 20:38
Last Modified: 27 Aug 2012 20:38

Actions (login required)

View Item