REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL TETANGGUH MASYARAKAT LAMPUNG PESISIR


IZHAR, 0201619019 (2023) REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL TETANGGUH MASYARAKAT LAMPUNG PESISIR. Doctoral thesis, UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.

[thumbnail of DISERTASI] PDF (DISERTASI)
Restricted to Repository staff only

Download (4MB) | Request a copy

Abstract

Dalam masyarakat Lampung Pesisir ditemukan penataan bahasa sebagai sarana komunikasi. Dalam berkomunikasi secara adat, masyarakat tersebut diasumsikan menggunakan ragam bahasa yang cenderung halus, tertata secara rapi, memperhatikan kesantunan, dan memperhatikan aturan perilaku atau norma�norma bertutur. Manakala tuturan secara adat yang dikenal dengan istilah tetangguh tersebut tidak diindahkan maka dapat menimbulkan kekurangelokan pada jalinan komunikasi dan berpotensi mengakibatkan ketidaktercapaian maksud si penutur bahasa. Tujuan penelitian ini ialah menemukan bentuk, makna, dan fungsi tuturan dalam kearifan lokal tetangguh masyarakat Lampung Pesisir; menemukan faktor�faktor pemengaruh dalam kearifan lokal tetangguh masyarakat Lampung Pesisir; menemukan kesantunan tuturan; dan menemukan aturan perilaku bertutur yang terdapat dalam kearifan lokal tetangguh masyarakat Lampung Pesisir. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan sosiopragmatis sebagai dasar analisisnya. Pendekatan sosiopragmatis digunakan mengingat bahwa di dalam tetangguh terdapat wujud bahasa dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga perlu dijelaskan mengapa penutur berpraktik bahasa demikian. Desain penelitian yang digunakan ialah desain kualitatif deskriptif. Data penelitian ini ialah penggalan wacana yang diduga terdapat tetangguh masyarakat Lampung Pesisir. Sumber data penelitian ialah wacana tetangguh masyarakat Lampung Pesisir dalam peristiwa bukhasan, mufakat umum ngemaju, ngantak maju, nyusul maju, dan manjau maju. Selain itu, hasil wawancara melalui Focus Grup Interview dengan pakar tetangguh, penutur tetangguh, para tokoh adat, akademisi, dan budayawan dijadikan sebagai data tambahan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini ialah teknik simak dan teknik cakap. Untuk memperoleh data yang valid atau terpercaya dilakukan peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi teori, dan triangulasi pengamat. Metode dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode padan pragmatik dan metode padan normatif. Berdasarkan hasil analisis data dihasilkan temuan bahwa tetangguh berbentuk tuturan percakapan dalam bahasa Lampung dialek A yang digunakan untuk menyatakan maksud atau membahas suatu persoalan dan hasilnya dimufakati bersama oleh penutur dan mitra tutur. Dalam tetangguh terdapat (1) makna vi mengutamakan hasil mufakat, (2) makna penghargaan atas gelar adat yang dimiliki, (3) makna kesopansantunan, dan (3) makna penghargaan terhadap tamu. Selanjutnya, di dalam tetangguh ditemukan fungsi tuturan representatif (1) menginformasikan, (2) menegaskan, (3) menjelaskan, dan (4) menyatakan; fungsi tuturan direktif (1) mengajak, (2) mengharapkan, (3) meminta; (4) mempersilakan, dan (5) memohon izin; fungsi tuturan komisif (1) menjanjikan, (2) menawarkan, dan (3) menyatakan; fungsi tuturan ekspresif (1) berterima kasih, (2) bersyukur, (3) mengharapkan, dan (4) meminta maaf; fungsi tuturan isbati (1) menetapkan, (2) mengangkat, (3) menyatakan, dan (4) memberikan izin; dan fungsi tuturan fatis (1) menyapa. Tetangguh dipengaruhi oleh faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor pemengaruh kebahasaan berupa diksi atau pilihan kata yang dinilai lebih halus dengan menempatkan kata ganti persona, kata hubung, kata kerja, kata keterangan, dan kata benda dalam tuturan mereka. Kemudian, faktor pemengaruh nonkebahasaan berupa faktor situasi yang mencakupi partisipan tuturan dan topik pertuturan, faktor budaya yang mencakupi mencakupi adok (gelar adat) dan relia berupa nama kegiatan, nama makanan, dan nama perkakas sebagai bagian budaya masyarakat Lampung Pesisir, dan faktor sosial yang mencakupi jarak sosial dan usia yang berpengaruh terhadap pemilihan tuturan. Sementara itu, status sosial partisipan tuturan dikesampingkan, yang dikedepankan ialah kompetensi penutur dan status penutur dalam sistem adat. Dalam tetangguh, penutur mematuhi keenam bidal prinsip kesantunan yang mencakupi (1) bidal ketimbangrasaan, (2) bidal kemurahhatian, (3) bidal keperkenanan, (4) bidal kerendahhatian, (5) bidal kesetujuan, dan (6) bidal kesimpatian. Selain itu, aturan perilaku bertutur, seperti ragam bahasa perwatin, penanda identitas sosial, organisasi ide, pengulasan tuturan, dan kapan memulai pertuturan dan kapan harus diam membersamai kesantunan tuturan tetangguh. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tetangguh merupakan kearifan lokal dalam bentuk tuturan bahasa Lampung dialek A yang tersusun secara rapi, dituturkan untuk menyatakan maksud atau membahas suatu persoalan yang hasilnya dimufakati bersama oleh penutur dan mitra tutur, dituturkan dalam ragam bahasa yang halus dengan ragam bentuk, makna, dan fungsi di dalamnya, memperhatikan kesantunan, sarat dengan faktor situasi, sosial, budaya, dan etiket linguistik.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Uncontrolled Keywords: aturan perilaku bertutur, tuturan, bentuk, makna, fungsi, faktor-faktor, kesantunan, dan tetangguh.
Subjects: D History General and Old World > D History (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General)
Fakultas: Pasca Sarjana > Pendidikan Bahasa Indonesia, S3
Depositing User: TUKP unnes
Date Deposited: 22 Mar 2024 03:05
Last Modified: 22 Mar 2024 03:05
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/62192

Actions (login required)

View Item View Item