MAKNA SIMBOLIK PERTUNJUKAN TARI GEDRUK PADA PAGUYUBAN WAHYU SEKAR LANGEN BUDHOYO DI DESA GEDANGANAK KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG


Maisya Azkalia Azhari, 2501415140 (2022) MAKNA SIMBOLIK PERTUNJUKAN TARI GEDRUK PADA PAGUYUBAN WAHYU SEKAR LANGEN BUDHOYO DI DESA GEDANGANAK KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG. Under Graduates thesis, Unnes.

[thumbnail of 2501415140 - Maisya Azkalia Azhari.pdf] PDF - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Istilah Gedruk berasal dari “Gedroek” berarti hentakan kaki, setelah diproses Gedroek dikombinasikan dengan topeng raksasa yang seram, menakutkan dan memiliki sifat sombong, angkuh dan serakah dituangkan dalam gerak tari bersama kerincing yang berada di kedua kaki pemain, dengan berjalannya waktu istilah “Gedroek” menjadi Gedruk. Penelitian bertujuan ingin mengupas dan menemukan makna simbolik yang muncul dari Tari Gedruk pada Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode kualitatif dan memaparkan secara deskriptif dengan pendekatan etik emik. Penelitian Makna Simbolik Tari Gedruk pada Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo di Desa Gedanganak Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang dalam pengumpulan data, teknik yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data yang digunakan berupa triangulasi waktu, teknik, dan sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang ditemukan menunjukkan bahwa Makna Simbolik Pertunjukan Tari Gedruk di Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo terdiri dari gerak, tata rias, tata busana, properti, tata pentas dimana setiap elemen pertunjukan memiliki makna simbolik di dalamnya. Gerak pada Tari Gedruk menggunakan ruang dan volume gerak yang lebar karena Tari Gedruk masuk ke dalam jenis tari gagah yang menggambarkan sosok raksasa yang sombong dan angkuh melalui gerakan langkah kaki, hentakan kaki, dan gerak Ngetrek. Penari Tari Gedruk menggunakan tata rias karakter dengan dominan warna hitam yang menggambarkan keadaan dimana jika seseorang sombong dan angkuh akan terjebak ke dalam kehidupan yang suram. Busana yang digunakan dalam pertunjukan Tari Gedruk memiliki warna yang cerah menggambarkan dalam sifat keangkuhan dan kesombongan terdapat sifat ceria yang menetralkan sifat-sifat buruk tersebut. Penari Gedruk pada Pertunjukan Tari Gedruk di Pertunjukan Wahyu Sekar Langen Budhoyo menggunakan properti topeng berwujud buto dengan taring menjulang ke luar mulut, makna yang disampaikan bahwa manusia pada masa sekarang banyak yang memiliki sifat serakah akan segala hal. Secara garis besar Tari Gedruk di Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo memiliki makna bahwa buto yang menjadi tokoh utama dalam pertunjukan memiliki sifat sombong, angkuh dan serakah seperti watak manusia zaman sekarang yang kebanyakan dibutakan oleh harta dan tahta

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Makna Simbolik, Paguyuban, Tari Gedruk
Subjects: L Education > Educational Institutions
N Fine Arts > NL Theater and Dance
Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, S1 (Pendidikan Seni Tari)
Depositing User: sri yuniati perpustakaan
Date Deposited: 02 Feb 2023 02:52
Last Modified: 02 Feb 2023 02:52
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/55868

Actions (login required)

View Item View Item