“Sikap Institusi Pasangan On the Job Training terhadap Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus”.

Mohamad Zaenuri, 3364000064 (2005) “Sikap Institusi Pasangan On the Job Training terhadap Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus”. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (“Sikap Institusi Pasangan On the Job Training terhadap Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus”. Sarjana Pendidikan Akuntansi.) - Published Version
Download (359Kb)

    Abstract

    Pendidikan Sistem Ganda pada SMK 01 PGRI Mejobo Kudus, dalam pelaksanaannya terdapat keluhan-keluhan dan hambatan dari kalangan institusi pasangan bahwa keberadaan siswa yang melakukan Pendidikan Sistem Ganda dianggap mengganggu proses produksi di perusahaan. Kenyataan ini dibuktikan dengan adanya beberapa masalah seperti Institusi Pasangan memperlakukan siswa tidak bekerja sesuai dengan keahliannya, siswa hanya diberi pekerjaan akan tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan yang intensif dari pihak Institusi Pasangan. Permasalahan yang utama yang perlu dicari jawabannya adalah apakah dunia usaha/industri memang sudah memahami konsep PSG atau belum, jika sudah sejauh mana pemahaman dunia usaha/industri tersebut terhadap pelaksanaan pendekatan PSG? Faktor-faktor apa saja yang menghambat pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus menurut pandangan Institusi Pasangan? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) sikap Institusi Pasangan On the Job Training terhadap pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus. 2) faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda SMK PGRI 01 Mejobo Kudus menurut pandangan Institusi Pasangan. Populasi penelitian ini adalah institusi pasangan on the job training SMK PGRI 01 Mejobo Kudus sebanyak 60 tempat. Sampel diambil secara proporsional random sampling sebanyak 42 institusi pasangan, yang terdiri dari 19 koperasi, 9 usaha dagang dan 14 instansi pemerintah. Variabel yang diteliti adalah sikap institusi pasangan terhadap pelaksanaan PSG dan hambatan-hambatan pelaksanaan PSG. Data diambil dengan teknik angket dan dianalisis menggunakan deskriptif persentase yang diuji perbedaannya mengunakan statistik chi kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa institusi pasangan PSG sebagian besar mempunyai sikap positif terhadap pelaksanaan PSG SMK PGRI 01 Mejobo Kudus. Hal ini dapat dilihat dari sikap institusi pasangan yang mempunyai sikap yang positif terhadap pelaksanaan PSG yaitu perlunya penyusunan program bersama, dokumen kerja sama, sistem organisasi, pembekalan pada siswa dan isntruktur, kehadiran guru pembimbing, orientasi PSG pada kurikulum, perlunya pengenalan pekerjaan, bimbingan yang intensif pada siswa, keterbukaan, kebebasan berinovasi, pengawasan kerja, evaluasi hasil kerja secara periodik yang dilakukan oleh pembimbing sekolah dan instruktur yang dicantumkan dalam sertifikat serta perlunya insentif pada instruktur. Ada perbedaan sikap antara koperasi, usaha dagang, dan instansi pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa sikap institusi pasangan yang belum menunjukkan sikap yang positif yaitu berkaitan dengan: perlunya keleluasaan siswa dalam bekerja, PSG sebagai tempat seleksi pegawai baru, penggunaan fasilitas kerja dan perlakuan siswa yang sama dengan pegawai lain. Kurangnya sikap positif ini karena hambatan yang terjadi pada pelaksanaan PSG yaitu kemampuan siswa yang rendah, kurangnya disiplin, kurangnya kreatifitas dalam bekerja. Kondisi ini menyebabkan pihak institusi pasangan kurang memberikan kepercayaan dan keleluasaan untuk menggunakan fasilitas yang ada sebagai sumber belajar. Akhirnya pihak isntitusi pasangan lebih cenderung memperlakukan siswa tidak sama dengan pegawai lainnya. Karena kondisi siswa tersebut, pihak institusi pasangan menjadi ragu untuk memanfaatkan PSG sebagai tempat seleksi karyawan baru. Ada beberapa hambatan dalam pelaksanaan PSG SMK PGRI 01 Mejobo Kudus yang menurut pihak Institusi pasangan, yaitu antara lain: 1) Kurangnya koordinasi, 2) Kemampuan siswa relatif masih kurang, 3) Rahasia Perusahaan Kepada Siswa, 4) Siswa Kurang Aktif, 5) Adaptasi Lingkungan Kerja, 6) Mengganggu Pekerjaan Instruktur, 7) Siswa Tidak Disiplin, 8) Fasilitas Kerja yang Kurang Memadai, 9) Waktu Pelaksanaan PSG Kurang, dan 10) Siswa Kurang Kreatif. Saran berkaitan dengan hasill penelitian ini antara lain: 1) Dari hambatan PSG yang ada, pihak sekolah hendaknya memberikan pembekalan yang lebih kepada siswa tentang kondisi di institusi pasangan berkaitan dengan pekerjaan yang harus dilakukan di tempat latihan, etika kerja dan disiplin kerja. Dengan pembekalan tersebut diharapkan siswa mempunyai gambaran dan bekal yang cukup untuk melaksanakan PSG. Pembekalan ini dapat dilakukan dengan cara mengundang pihak institusi pasangan ke sekolah untuk memberikan gambaran pekerjaan yang akan dilakukan di tempat latihan. 2) Pihak perusahaan hendaknya lebih memahami bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya dari pihak sekolah namun juga menjadi tanggung jawab masyarakat (institusi pasangan PSG), sehingga dengan kondisi siswa yang belum mempunyai kemampuan sesuai harapan dapat dididik dan dilatih secara leluasa dan intensif di tempat latihan.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: Sikap, institusi pasangan, pendidikan sistem ganda, link and match
    Subjects: H Social Sciences > HF Commerce > HF5601 Accounting
    Fakultas: Fakultas Ekonomi > Pendidikan Ekonomi, S1
    Depositing User: Hapsoro Adi Perpus
    Date Deposited: 28 Mar 2011 04:27
    Last Modified: 25 Apr 2015 00:01

    Actions (login required)

    View Item