PEMANFAATAN GENJER (LIMNOCHARIS FLAVA) SEBAGAI PEWARNA ALAM COLET DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN


Esti Marfiana , 5401414043 (2019) PEMANFAATAN GENJER (LIMNOCHARIS FLAVA) SEBAGAI PEWARNA ALAM COLET DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN. Under Graduates thesis, UNNES.

[thumbnail of PEMANFAATAN GENJER (LIMNOCHARIS FLAVA) SEBAGAI PEWARNA ALAM COLET DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN]
Preview
PDF (PEMANFAATAN GENJER (LIMNOCHARIS FLAVA) SEBAGAI PEWARNA ALAM COLET DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN) - Published Version
Download (1MB) | Preview

Abstract

Batik merupakan suatu teknik menghias permukaan kain dengan menahan malam secara berulang-ulang. Malam batik terdiri dari malam panas dan malam dingin, dimana malam dingin terbuat dari bubur ketan. Pewarnaan batik dapat berasal dari zat warna alam dan zat warna buatan. Pewarnaan alam adalah zat warna alam yang berasal dari alam, salah satunya yaitu genjer (Limnocharis flava). Kandungan kimia yang terdapat pada daun genjer yaitu karetonoid dan flavonoid yang menghasilkan warna kuning dan hijau kecoklatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas pewarnaan batik dengan zat pewarna genjer terhadap ketuaan warna, ketahanan luntur dan ketajaman motif. Objek penelitian ini adalah (1) ekstrak daun genjer, (2) kain mori primishima, (3) tiga jenis mordan yaitu tawas, kapur tohor, dan tunjung. Variabel yang akan diungkap untuk menghasilkan kualitas kain batik antara lain arah warna, ketuaan warna, ketahanan luntur, dan ketajaman motif. Cara membuat larutan ekstrak daun genjer dan pencoletan batik dilakukan dengan menggunakan perbandingan daun genjer dengan air 1:3, vlot 1:30. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi dan uji laboratorium. Hasil uji laboratorium dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil uji arah warna pada proses pelorodan malam dengan air untuk mordan tawas menghasilkan warna daffodil atau blonde, pada mordan kapur tohor menghasilkan warna macaroon atau shortbread, dan pada mordan tunjung menghasilkan warna sage atau hazel wood. Sedangkan untuk proses pelorodan dengan dikukus untuk mordan tawas menghasilkan warna beige atau parmesean, mordan kapur tohor menghasilkan warna beige atau sandcastle, dan mordan tunjung menghasilkan warna sage atau wood. Uji ketuaan warna menunjukkan bahwa pewarnaan colet tunjung dilorot dengan air memiliki nilai ketuaan warna %T sebesar 85,50% merupakan ketuaan warna paling tua di antara mordan lainnya. Ketajaman motif batik diperoleh dari hasil uji laboratorium ketuaan warna dan kain putih yang belum diwarnai (%T kain putih – nilai dari masing-masing variasi modan) menunjukkan bahwa pewarnaan tunjung proses pelorotan dengan air paling tajam sebesar 90,15%. Hasil uji ketahanan luntur terhadap gosokan kain sama antara variasi mordan dengan kategori baik.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Colet, Genjer, Malam Dingin
Subjects: T Technology > TY Pendidikan Kesejahteraan Keluarga > TY3 Tata Busana S1
Fakultas: Fakultas Teknik > Pendidikan Tata Busana, S1
Depositing User: budi Budi santoso perpustakaan
Date Deposited: 28 Jul 2020 14:07
Last Modified: 28 Jul 2020 14:07
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/37532

Actions (login required)

View Item View Item