HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA DINI DI DESA GEMANTAR, KECAMATAN SELOGIRI


Linda Rahmawati , 5401413026 (2019) HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA DINI DI DESA GEMANTAR, KECAMATAN SELOGIRI. Under Graduates thesis, UNNES.

[thumbnail of HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA DINI DI DESA GEMANTAR, KECAMATAN SELOGIRI]
Preview
PDF (HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA DINI DI DESA GEMANTAR, KECAMATAN SELOGIRI) - Published Version
Download (496kB) | Preview

Abstract

Anak usia dini dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi tidak jauh berbeda dengan anak usia sekolah karena pada usia tersebut sudah mampu memilih makanan yang disenangi.Kebiasaan makan yang salah berdampak pada masalah yang sering terjadi pada anak usia dini yaitu stunting.Kejadian stunting juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan ketersediaan pangan. Pola makan dan sosial ekonomi keluarga berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan anak usia dini. Tujuan penelitian: 1) Mengetahui hubungan pola makan dan status sosial ekonomi dengan kejadian stunting AUD di desa gemantar, kecamatan selogiri; 2) Mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian stunting pada AUD di desa gematar kecamatan selogiri; 3) Mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada AUD di desa gemantar, kecamatan selogiri. Populasi dalam penelitian adalahAnak Usia Dinidi Desa Gemantar dengan jumlah 45anak beserta Ibu. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Metode pengumpulan data mrnggunakan wawancara, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis uji pra syarat, mutu gizi makanan, dan korelasi ganda. Hasil dan kesimpulan: 1) mutu gizi makanan yang masuk dalam kategoridefisit sebanyak 43 siswa, sisanya 2 siswa masuk ke dalam kategori kurang. rerata AKE anak sebanyak 862,07 kkal, AKP hanya 26,84 g, AKL hanya 35,09 g, AKS hanya 3,3 mg, dan AKSe hanya 2,3 mg. Hasil AKE anak menunjukkan bahwa pada hasil rerata pada usia 1-3 tahun mendapatkan kategori sedang. Sedangkan pada usia 4-6 tahun memiliki kategori sedang. hasil AKP menunjukkan rerata prosentase kecukupan protein dengan kategori sedang disemua umur. Hasil AKL menunjukkan bahwa semua kelompok usia responden memiliki skor rerata kecukupan lemak yang kurang. Hasil AKS diperoleh semua responden atau sebanyak 45 anak (100%) memiliki prosentase yang defisit dan untuk hasil AKZn menunjukkan bahwa semua kelompok umu termasuk dalam kategori defisit (100%) ;Pada kelompok konsumsi makanan pokok, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah nasi putih yang dikonsumsi > 1 kali sehari. Pada kelompok konsumsi protein nabati, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah tahu dan tempe kedelai yang dikonsumsi 4-6 kali seminggu. Pada kelompok konsumsi protein hewani, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah telur yang dikonsumsi 4-6 kali seminggu.Pada kelompok konsumsi sayur, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah wortel yang dikonsumsi 4-6 kali seminggu. Pada kelompok konsumsi buah, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah mangga yang dikonsumsi 4-6 kali seminggu. Pada kelompok konsumsi makanan siap saji, rerata skor frekuensi dalam satu minggu tertinggi adalah mie instan yang dikonsumsi 4-6 kali seminggu. 2) gambaran tingkat pendidikan orang tua anak sebagian besar bertingkat pendidikan SMP untuk ayah yaitu 35,56% dan ibu pendidikan dasar sebanyak 40%; gambaran tngkat pekerjaan orang tua anak untuk ayah mayoritas petani sebanyak 40% dan ibu sebagai ibu rumah tangga sebnayak 42,22%; gambaran tingkat pendapatan mayoritas berpendapatan rendah sebanyak 55,56%. 3) status gizi anak mayoritas berstatus Normal 80%. 4) ada hubungan antara status sosial ekonomi dengan stunting pada anak usia dini di desa gemantar berdasarkan nilai R = 0,030 (nilai R < 0,05); 5) tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian stunting pada anak usia dini di desa gemantar berdasarkan nilai R = 0,313 (nilai R < 0,05); 6) tidak ada hubungan antara pola makan dan status sosial ekonomi dengan kejadian stunting anak usia dini di desa gemantar berdasarkan nilai R = 0,336 (nilai R < 0,294). Saran: 1) Sebagai orang tua terutama ibu yang mengelola makanan anak diharapkan agar ebih memperhatikan keanekaragaman makanan anak dan meningkatkan asupan zat gizi energi, protein, lemak, serat, dan seng pada anak agar mengurangi resiko terjadinya stunting pada anak. 2) Pengetahuan ibu anak mayoritas kurang paham dengan stunting, sehingga para kader Posyandu diharapkan untuk dapat memberikan penyuluhan untuk menambah pengetahuan mengenai stunting pada anak. Kepada ibu-ibu anak agar dapat diterapkan kepada anaknya masing-masing yang tinggi badannyamasih tergolong pendek agar menjadi normal, dan kepada balita yang tinggi badannya normal agar tetap stabil. 3) Bagi pemerintah diharapkan bekerja sama dengan dinas kesehatan dan puskesmasdalam mengadakan penyuluhuan mengenai dampak dan pencegahan stunting. 4) Bagi penelitian selanjutnya, terdapat banyak faktor lain yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak, baik secara langsung maupun tidak langsun. Diharapkan dapat dilakukan penelitian dengan memasukkan erbagai variabel yang belum terdapat pada penelitian ini.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Pola makan, Status sosial ekonomi, Stunting
Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions > Socio-economic
T Technology > TY Pendidikan Kesejahteraan Keluarga > TY2 Tata Boga S1
Fakultas: Fakultas Teknik > Pendidikan Tata Boga, S1
Depositing User: budi Budi santoso perpustakaan
Date Deposited: 20 Jul 2020 11:36
Last Modified: 20 Jul 2020 11:36
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/37452

Actions (login required)

View Item View Item