Tari Purisari Di Kabupaten Pati (Kajian tentang Bentuk Penyajian dan Makna Filosofis).

Luciana Intan Prihatini, 2501401023 (2006) Tari Purisari Di Kabupaten Pati (Kajian tentang Bentuk Penyajian dan Makna Filosofis). Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (Tari Purisari Di Kabupaten Pati (Kajian tentang Bentuk Penyajian dan Makna Filosofis).) - Published Version
Download (76Kb)

    Abstract

    Tari Purisari merupakan tari pergaulan yang lahir dari gagasan Bupati Pati Soenardji (tahun 1991-1996) dalam pidato tahun keduanya di GOR Pesantenan Puri Pati. Oleh Soenardji tari Purisari dilegitimasi sebagai tari identitas Kabupaten Pati. Tari Purisari bersumberkan pada tema tari Tayub, yaitu menceritakan ungkapan rasa syukur masyarakat Pati kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah. Seiring perkembangan kondisi daerah serta pergantian tampuk pemerintahan, pengembangan tari Purisari mulai surut. Adanya asumsi masyarakat golongan tua serta seniman yang tidak terlibat secara langsung dalam proses garap tari Purisari, sangat mempengaruhi ketidak-eksisan tari Purisari di Kabupaten Pati. Nilai filosofis tari Purisari dapat dijadikan pedoman masyarakat Pati dalam hidup bermasyarakat. Masalah penelitian yang dikaji adalah (1) bagaimana bentuk penyajian tari Purisari di Kabupaten Pati? (2) Makna Filosofis yang terkandung di dalam tari Purisari di Kabupaten Pati. Tujuan penelitian untuk mengetahui, memahami, dan mendeskripsikan bentuk penyajian dan makna filosofis tari Purisari di Kabupaten Pati. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi dan dokumentasi bagi pengembangan penelitian seni pertunjukkan, dan sekaligus sebagai wahana upaya pelestarian tari Purisari. Penelitian mengambil lokasi di Kabupaten Pati dengan pendekatan penelitian kualitatif. Sasaran penelitian adalah bentuk penyajian tari Purisari serta makna filosofis yang terkandung dalam tari Purisari. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan sistem siklus, dimana peneliti melakukan proses pengumpulan data sekaligus menyeleksi data yang diperoleh selanjutnya menyederhanakan data yang diperoleh dengan cara mengurangi atau membuang data yang dianggap tidak perlu. Bila terdapat kekurangan data, peneliti dapat kembali ke lapangan menggunakan waktu yang tersisa untuk mengumpulkan data pendukung. Keabsahan data menggunakan triangulasi yang memungkinkan adanya kekurangan dalam informasi pertama sehingga mendapat tambahan pelengkap. Hasil penelitian menunjukan bentuk penyajian tari Purisari meliputi gerak maknawi dan gerak murni; desain lantai yang digunakan berupa garis lurus, garis lengkung, garis zig-zag; iringan menggunakan iringan eksternal dan iringan internal; tata busana penari putra menggunakan beskap, celana komprang, iket, sampur, epek timang dan jarit; tata busana penari putri menggunakan kebaya, jarit selutut, dan sampur; tata rias wajah penari putri menggunakan rias cantik sedangkan penari putra menggunakan rias putra alus; tata rias rambut hanya diterapkan pada penari putri; tempat pertunjukan dapat berupa arena terbuka maupun tertutup. Tema yang digunakan menggambarkan hal baik yaitu rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Makna filosofis yang terkandung dalam tari Purisari di Kabupaten Pati meliputi: (a) gerak tari Purisari mengajarkan tentang etika pergaulan; (b) tema tari Purisari mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur; (c) iringan tari Purisari mengajarkan manusia untuk selalu mengakui keberadaan Tuhannya (lelagon Ilir-ilir), menanamkan semangat untuk belajar setinggi langit (Ketawang Sinom), memahami serta menghargai teman bergaul yang berasal dari daerah lain yang mempunyai tata nilai yang berbeda-beda, tidak membedakan satu dengan yang lain, bangga terhadap daerahnya, serta cinta produksi dalam negeri (lelagon Gandhul Pati); (d) tata rias wajah dan rambut mengandung nilai kesederhanaan, keberanian, kerapian, cinta kebaikan serta keanggunan; (e) tata busana mengandung nilai keberanian tetapi tidak sombong, kelincahan dan kejawen dilihat dari segi busana berwarna hitam; (f) pola lantai memiliki makna kekuatan, kebersamaan, kelembutan, keceriaan, dan kesetiaan pada pasangan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) kepada orang tua siswa SMA, perlunya menanamkan kepada anak untuk mempelajari tari Purisari; (2) kepala sekolah SMA perlu memasukan tari Purisari ke dalam materi ekstra kurikuler; (3) pemerintah Kabupaten Pati hendaknya menampilkan tari Purisari di daerah lain; (4) pemerintah daerah khususnya Dinas Pendidikan subdin Dikluseporabud Kabupaten Pati perlu adanya usaha untuk memasyarakatkan tari Purisari dengan cara mengadakan lomba tari Purisari setiap tahun; (5) untuk melestarikan kesenian daerah diperlukan kerja sama yang baik dari berbagai pihak termasuk perlu perhatian yang lebih serius dari instansi terkait, yaitu Dinas Pendidikan serta Dinas Pariwisata.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, S1 (Pendidikan Seni Tari)
    Depositing User: dwi perpus unnes
    Date Deposited: 23 Aug 2011 00:43
    Last Modified: 23 Aug 2011 00:43

    Actions (login required)

    View Item