DINAMIKA KELOMPOK WAYANG ORANG NGESTI PANDOWO DI SEMARANG: USAHA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSINYA DI MASYARAKAT TAHUN 1996 – 2001


Dinda Huwaidaa’ Azhari , 3111414010 (2019) DINAMIKA KELOMPOK WAYANG ORANG NGESTI PANDOWO DI SEMARANG: USAHA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSINYA DI MASYARAKAT TAHUN 1996 – 2001. Under Graduates thesis, UNNES.

[thumbnail of 3111414010maria.pdf]
Preview
PDF - Published Version
Download (1MB) | Preview

Abstract

Kesenian wayang orang mengalami kejayaan di tahun 1950-an hingga 1970-an di Indonesia. Kejayaan ini dialami pula oleh kelompok wayang orang Ngesti Pandowo, namun mengalami kemunduran setelah tahun 1970. Mundurnya sebuah kesenian ada yang disebabkan karena politik, ekonomi, ataupun karena tidak dapat bersaing dengan kesenian lainnya. Kemunduran Ngesti Pandowo ini disebabkan oleh kemajuan teknologi yaitu televisi dan VCD, serta disebabkan pula karena adanya bentuk-bentuk kesenian baru yang lebih diminati. Puncak dari kemunduran Ngesti Pandowo terjadi pada tahun 1990 ketika yayasan GRIS (Gedung Rakyat Indonesia Semarang) sebagai pemilik gedung pementasan yang digunakan Ngesti Pandowo memberhentikan kerjasama. Adanya keputusan tersebut menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana kronologis sengketa gedung pementasan di kompleks GRIS antara Ngesti Pandowo dengan yayasan GRIS ? Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan Ngesti Pandowo setelah keluar dari GRIS agar tetap eksis di masyarakat? Untuk menjawab hal tersebut dilakukan penelitian dengan menggunakan metode heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data penelitian menggunakan studi wawancara, arsip dan dokumen, serta studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik antara yayasan GRIS dan Ngesti Pandowo mengenai gedung pementasan berlangsung selama 5 tahun yaitu sejak tahun 1990 hingga tahun 1996. Penyelesaian konflik tersebut menggunakan cara mediasi serta melibatkan Pemerintah Kota Semarang sebagai pihak penengah. Di tahun 1996 kompleks GRIS resmi terjual ke BPD Jawa Tengah, Ngesti Pandowo mendapatkan hak sebesar Rp500 juta. Kelompok ini kemudian menempati gedhong ndhuwur di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) namun tidak bertahan lama karena gedung tidak representatif. Selanjutnya Ngesti Pandowo menyewa gedung pementasan di Istana Majapahit Pedurungan dari tahun 1997 – 2000, yang mana sewa gedung dihentikan karena ketidakmampuan membayarnya. Untuk mempertahankan pementasan, kelompok ini kemudian mendapatkan pinjaman gedung Ki Narto Sabdo di kompleks TBRS oleh Pemkot Semarang tanpa membayar sewa pada tahun 2001.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Dinamika, Wayang Orang, Ngesti Pandowo
Subjects: D History General and Old World > D History (General)
Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Ilmu Sejarah, S1
Depositing User: S.Hum Maria Ayu
Date Deposited: 27 Dec 2019 00:52
Last Modified: 27 Dec 2019 00:52
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/33970

Actions (login required)

View Item View Item