REVOLUSI SOSIAL DI KOTA DEPOK 1945-1955


Wisnu Rega Aditiya , 3111413034 (2017) REVOLUSI SOSIAL DI KOTA DEPOK 1945-1955. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[thumbnail of 3111413034.pdf]
Preview
PDF - Published Version
Download (325kB) | Preview

Abstract

Depok awalnya merupakan sebuah dusun terpencil ditengah hutan belantara dan semak belukar. Pada tanggal 18 Mei 1696 seorang pejabat tinggi VOC, Cornelis Chastelein, membeli tanah yang meliputi daerah Depok serta sedikit wilayah Jakarta Selatan dan Ratujaya, Bojong Gede, seharga 700 ringgit. Status tanah itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Di sana ditempatkan budak-budak dan pengikutnya bersama penduduk asli. Tahun 1871 Pemerintahan Belanda menjadikan daerah Depok sebagai daerah yang memiliki pemerintahan sendiri (otonom), lepas dari pengaruh dan campur tangan dari luar. Kekuasaan otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Seiring kalahnya pasukan terakhir Belanda oleh Jepang pada maret 1942 kekuasaan Gemeente bestuur Depok mulai pudar. Tidak ada lagi pajak, seluruh hasil bumi Depok diambil oleh Jepang dan hanya ditukar dengan sebuah celana kolor. Kendati demikian, hak hak istimewa Kaum Depok sisa kolonial tidak serta hilang. Dalam pergaulan sehari hari, misalnya orang kampung masih membungkuk dan mengucapkan kata; tabek. Bila memakai topi, topinya dilepas dan diletakkan didada sambil membungkuk. Namun keadaan seperti ini tidak bertahan lama puncak-nya terjadi pada tanggal 17 agustus 1945 ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh IR. Soekarno tidak halnya yang terjadi di Depok kala itu, tidak ada satupun bendera merah putih berkibar di Depok pada saat itu. Hal ini memicu terjadi-nya pergolakan dimana sejarah baru Kota Depok dimulai. Pemuda dari Seantero Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi yang mendengar peristiwa ini terjadi di Kota Depok mulai melakukan pergerakan untuk melakukan Revolusi dan menyusun Rencana untuk meruntuhkan pemerintahan Depok yang tetap bersikukuh dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia pada saat itu, puncaknya terjadi pada tanggal 11 Oktober 1945 Depok kota kecil dan damai mulai berubah menjadi kota gelap yang penuh dengan teriakan kaum Belanda Depok yang menjadi korban revolusi kemerdekaan di Depok saat itu. Para kaum Belanda Depok banyak yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan kaum revolusioner mereka dirampok, dibunuh, atau dipukuli bahkan mereka dikumpulkan menjadi beberapa kelompok lalu dibawa dan dikumpulkan dibeberapa penjara yang ada pada saat itu.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: Revolusi Sosial, Depok.
Subjects: D History General and Old World > D History (General)
Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Ilmu Sejarah, S1
Depositing User: Users 98 not found.
Date Deposited: 03 Mar 2018 00:12
Last Modified: 03 Mar 2018 00:12
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/30083

Actions (login required)

View Item View Item