PERAN TOKOH MASYARAKAT DALAM PENEGAKAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT): STUDI KASUS Di KELURAHAN KEBONDALEM KABUPATEN PEMALANG

Agung Tri Widodo , 3401404501 (2009) PERAN TOKOH MASYARAKAT DALAM PENEGAKAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT): STUDI KASUS Di KELURAHAN KEBONDALEM KABUPATEN PEMALANG. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (PERAN TOKOH MASYARAKAT DALAM PENEGAKAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT): STUDI KASUS Di KELURAHAN KEBONDALEM KABUPATEN PEMALANG) - Published Version
Download (407Kb)

    Abstract

    Perilaku kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga di Indonesia pada saat ini telah menjadi permasalahan yang sangat memprihatinkan. Perhatian publik terhadap berbagai masalah yang terkait dengan tindak kekerasan dalam rumah tangga menjadi semakin besar. Oleh karena itu, perlu adanya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berbagai solusi telah diberikan Pemerintah untuk mengatasi masalah kekerasan dalam rumah tangga, salah satunya dengan membentuk Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Namun permasalahan kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat diatasi hanya dengan pembentukan Undang-undang tersebut, melainkan perlu adanya campur tangan serta kesadaran dari berbagai pihak, baik pihak yang melakukan KDRT, korban, maupun orang tua. Campur tangan dari pihak-pihak tersebut sangat diperlukan untuk mengurangi terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang semakin besar. Keberadaan tokoh masyarakat dalam menyelesaikan masalah kekerasan dalam rumah tangga juga dianggap penting, karena tokoh masyarakat memiliki peran besar untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk kasus kekerasan dalam rumah tangga. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) faktor apa saja yang menjadi penyebab kasus KDRT di Kelurahan Kebondalem Kabupaten Pemalang? (2) bagaimana perananan tokoh masyarakat dalam penanganan dan penegakan kasus KDRT di Kelurahan Kebondalem Kabupaten Pemalang? (3) faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam upaya penegakkan dan penanganan KDRT di Kelurahan Kebondalem Kabupaten Pemalang? Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya KDRT; (2) untuk mendeskripsikan peranan tokoh masyarakat penanganan dan penegakan KDRT di Kelurahan Kebondalem Kabupaten Pemalang; dan (3) untuk mendeskripsikan hambatan-hambatan yang dihadapi tokoh masyarakat dalam penanaganan dan penegakan kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kelurahan Kebondalem Kabupaten Pemalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian yang dijadikan objek adalah kelurahan kebondalem kabupaten pemalang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, serta dokumentasi yang diolah dan diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi untuk pengecekan keabsahan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) masyarakat di Kelurahan Kebondalem masih beranggapan bahwa masalah rumah tangga merupakan urusan privat dan harus diselesaikan secara sendiri tanpa melibatkan orang lain; (2) faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga antara lain: persepsi masih adanya perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, ketergantungan istri pada suami dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, anggapan KDRT bukan sebagai masalah sosial melainkan sebagai masalah suami istri, perlakuan mendidik anak laki-laki lebih keras dibanding dengan anak perempuan, dan pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama yang menganggap bahwa lelaki boleh menguasai perempuan; (3) Tokoh masyarakat berperan dengan memberikan arahan, bimbingan serta mencarikan solusi yang terbaik terhadap pelaku dan korban KDRT dengan cara musyawarah secara kekeluargaan; (4) Keterlibatan aparat penegak hukum yang sudah menangani secara intensif pengaduan korban, yang sudah sesuai prosedur undang-undang No.23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga sehingga dapat mengeliminir KDRT yang dilakukan suami terhadap istri. hambatan-hambatan peranan tokoh masyarakat dalam penanganan dan penegakan kasus KDRT, antara lain: kurangnya pengetahuan masyarakat tentang KDRT sebagai tindakan kriminal yang sudah diatur dalam undang-undang No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, kurangnya sifat keterbukaan bagi si korban tentang kekerasan yang terjadi dalam rumah tangganya, ketakutan untuk melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangganya, perananan tokoh masyarakat yang belum optimal dalam penyelesaian masalah KDRT, kurangnya sosialisasi tentang KDRT, Penegakan undang-undang No.23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yang masih lemah. Secara umum perlu adanya pengarahan dan sosialisasi secara rutin berkaitan dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dalam pelaksanaan penanganan dan penegakan yang dilakukan oleh tokoh masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kualitas dalam memberikan arahan, bimbingan bagi pelaku dan korban KDRT. Bagi aparat penegak hukum diharapkan untuk menindak dan memproses sesuai dengan undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Bagi tokoh masyarakat yang berasal dari tokoh keagamaan diharapakan partisipasinya dalam memberikan pemahaman ajaran agama yang tidak bias gender, sehingga image bahwa ajaran agama melegitimasi kekerasan suami terhadap perempuan (istri) tereliminir, sekaligus korban kekerasan dalam rumah tangga dapat dikendalikan.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: Peranan, Tokoh masyarakat, KDRT
    Subjects: H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
    Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, S1
    Depositing User: dwi perpus unnes
    Date Deposited: 06 May 2011 02:24
    Last Modified: 25 Apr 2015 00:43

    Actions (login required)

    View Item