TRADISI PENGGUNAAN PASUNG DALAM SLAMETAN KEMATIAN DI DESA TIRTOMULYO KECAMATAN PLANTUNGAN KABUPATEN KENDAL

Ardhy Sahistya, 3401409044 (2013) TRADISI PENGGUNAAN PASUNG DALAM SLAMETAN KEMATIAN DI DESA TIRTOMULYO KECAMATAN PLANTUNGAN KABUPATEN KENDAL. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (TRADISI PENGGUNAAN PASUNG DALAM SLAMETAN KEMATIAN DI DESA TIRTOMULYO KECAMATAN PLANTUNGAN KABUPATEN KENDAL)
Download (1038Kb)

    Abstract

    Masyarakat Jawa dikenal sebagai slaah satu masyarakat yang masih menjaga tradisi dan kebudayaan warisan dari leluhur yang kemudian menjadi identitas pembeda dengan masyarakat yang lain dikarenakan di dalamnya terdapat tatanan nilai, norma atau kaidah-kaidah yang berlaku seperti contohnya slametan kematian yang kemudian menjadi tradisi warisan leluhur Jawa. Berdasarkan pernyataan tersebut kemudian memunculkan suatu pertanyaan bahwa apakah masyarakat masih mempertahankan eksistensi dari tradisi penggunaan pasung dalam bancakan ditengah arus modernisasi yang sudah mulai masuk sampai ke desa terpencil sekalipun. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tradisi penggunaan pasung dalam slametan kematian di Desa Tirtomulyo (2) mengetahui penyebab tradisi penggunaan pasung masih eksis terdapat di dalam slametan kematian di Desa Tirtomulyo dan (3) mengetahui fungsi yang terkandung di dalam pasung tersebut.. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Fungsionalisme Struktural yang dikemukakan oleh Talcott Parsons yang menjabarkan adanya empat fungsi yang dikenal dengan skema AGIL. Lokasi penelitian berada di Desa Tirtomulyo Kabupaten Kendal. Pengumpulan data memakai teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai metode analisis data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa tradisi penggunaan pasung dalam slametan kematian dan eksistensi penggunaan pasung dalam slametan kematian masih terjaga karena masyarakat percaya bahwa anggapan masyarakat lokal tentang ora ilok masih dijaga oleh masyarakat Desa Tirtomulyo karena adanya ketakutan masyarakat bahwa apabila tidak menggunakan pasung maka akan menyusahkan untuk si arwah mencapai alam barzah dengan lancar. Di Desa Tirtomulyo terdapat kepercayaan lokal bahwa penggunaan pasung tersebut akan menolong si arwah di dalam perjalanannya menuju ke alam selanjutnya yang dikenal oleh masyarakat lokal dengan nama alam barzah. Pasung tidak dibuat setiap waktu, tetapi hanya saat si pembuat menerima pesanan. Fungsi yang terkadung di dalam pasung tersebut bagi masyarakat adalah sebagai penghormatan bagi anggota keluarga yang meninggal karena masyarakat akan merasa berdosa apabila tidak menyertakan pasung dalam slametan kematian, sedangkan fungsi berikutnya adalah sebagai tongkat atau pegangan untuk si arwah selama 40 hari pertama setelah meninggal berada di sekitar tempat tinggalnya, sedangkan fungsi dari jajanan yang lain yakni : gemblong sebagai perekat batin antara si arwah dengan keluarga yang ditinggalkan, krecek sebagai alas tempat tidur, gedang raja sebagai kendaraan dan apem sebagai payung atau tempat berteduh. Saran yang kemudian dapat penulis rekomendasikan untuk penelitian ini adalah untuk pemerintah Desa Tirtomulyo bisa membantu dalam pelestarian kebudayaan asli Jawa dan untuk masyarakat Desa Tirtomulyo selalu menjaga dan melaksanakan tradisi dan kebudayaan warisan leluhur dikarenakan kebudayaan seperti ini sudah jarang ditemui ditempat lain.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: Pasung, Slametan Kematian, Tradisi
    Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
    G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
    Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, S1
    Depositing User: budi santoso perpustakaan
    Date Deposited: 01 Nov 2013 12:05
    Last Modified: 01 Nov 2013 12:05

    Actions (login required)

    View Item