PAWANG DALAM FENOMENA TRANS PADA KESENIAN BARONGAN DIDESA BERBAK KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN BLORA.

Anita Sulistyowati, 2501401033 (2007) PAWANG DALAM FENOMENA TRANS PADA KESENIAN BARONGAN DIDESA BERBAK KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN BLORA. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

Abstract

Kesenian tradisional barongan merupakan jenis kesenian rakyat yang ada di Blora,kehadiran pawang dalam setiap pertunjukan sepenuhnya dipentaskan, karena proses terjadinya trans tergantung dari pawang, sehingga daya tarik pertunjukan barongan terletak pada fenomena trans. Trans atau ndadi adalah kemasukan setan atau roh. Seperti halnya penari barongan yang mengalami kesurupan atau ndadi akan melakukan gerakan di luar kesadarannya. karena ia berada di alam lain dan penari telah dikuasai oleh roh yang masuk ke dalam tubuh penari melalui pawang.. Kemampuan seorang pawang diperoleh dengan proses pewarisan atau proses transmisi dari nenek moyangnya dan itu sudah merupakan ciri khas dari sosok seorang pawang. Permasalahan yang dibahas dalam penulisan ini adalah bagaimanakah proses menjadi seorang pawang dan perannya dalam pertunjukan barongan di Desa Berbak Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah proses menjadi seorang pawang dalam pertunjukan barongan di Desa Berbak kecamatan Ngawen kabupaten Blora. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif yang mempunyai sifat diskriptif, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Kegiatan penelitian berlokasi di Desa Berbak Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. Sasaran penelitian ini adalah bagaimana proses menjadi seorang Pawang dalam kesenian barongan. Analisis data yang digunakan bersifat terbuka, open-ended dan induktif. Dari penelitian yang penulis lakukan didapatkan hasil bahwa untuk menjadi seorang pawang yang mumpuni, dia harus melakukan beberapa proses persyaratan diantaranya; calon pawang harus mempunyai keturunan dari pawang yang sudah ada., untuk menjadi seorang pawang harus belajar melalui cara nyantrik yaitu belajar dengan praktek langsung didampingi oleh seorang pawang yang sudah ada., calon pawang harus berumur minimal 35 tahun, calon pawang harus mempunyai kekuatan batin yang tinggi yang didapat melalui lelaku. Dalam hal ini pawang berperan sebagai penyembuh atau mengembalikan kesadaran seorang pemain jika terjadi trans. Selain itu penelitian yang peneliti lakukan menghasilkan bahwa fenomena trans dalam pertunjukan barongan berlangsung pada saat penari kemasukan roh-roh. Pada akhir pertunjukan penari yang ndadi mengalami kejang-kejang pandangan kosong dan setelah itu disadarkan oleh pawang. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan maka penulis menyarankan agar dalam proses pergantian atau regenerasi Pawang hendaknya dilakukan dengan cara yang lebih demokratis, supaya setiap orang yang mampu dan ingin menjadi pawang dapat menjadi Pawang walaupun tidak mempunyai garis keturunan dengan Pawang sebelumnya.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
Fakultas: UNSPECIFIED
Depositing User: Hapsoro Adi Perpus
Date Deposited: 25 Apr 2011 03:23
Last Modified: 25 Apr 2015 00:34

Actions (login required)

View Item