BARONG DAN RANGDA : PERKEMBANGAN, PROSES PEMBUATAN, DAN SAKRALISASI, SERTA PESAN-PESAN BUDAYA DALAM PENAMPILANNYA SEBAGAI KESENIAN TRADISIONAL BALI


Dewa Made Karthadinata, , 2001503002 (2006) BARONG DAN RANGDA : PERKEMBANGAN, PROSES PEMBUATAN, DAN SAKRALISASI, SERTA PESAN-PESAN BUDAYA DALAM PENAMPILANNYA SEBAGAI KESENIAN TRADISIONAL BALI. Masters thesis, Universitas Negeri Semarang.

[thumbnail of BARONG DAN RANGDA : PERKEMBANGAN, PROSES PEMBUATAN, DAN SAKRALISASI, SERTA PESAN-PESAN BUDAYA DALAM PENAMPILANNYA SEBAGAI KESENIAN TRADISIONAL BALI]
Preview
PDF (BARONG DAN RANGDA : PERKEMBANGAN, PROSES PEMBUATAN, DAN SAKRALISASI, SERTA PESAN-PESAN BUDAYA DALAM PENAMPILANNYA SEBAGAI KESENIAN TRADISIONAL BALI) - Published Version
Download (3MB) | Preview

Abstract

Animisme dan dinamisme merupakan agama yang umum bagi masyarakat prasejarah. Animisme adalah keyakinan akan adanya roh, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda-beda, sedangkan dinamisme adalah keyakinan terhadap adanya kekuatan-kekuatan alam. Pada peradaban pra-sejarah ritual magis yang animistis merupakan sumber penting dari inspirasi artistik. Walaupun masyarakat Bali telah menganut paham agama Hindu Dharma, namun anasir-anasir paham animisme dan dinamisme itu tetap hingga sekarang menjiwai kesenian Bali, bahkan sudah menyatu dalam budaya. Hal ini dapat dilihat dalam pertunjukan tari wali, seperti Sang Hyang Jaran, Sang Hyang Dedari, bahkan pada pertunjukan Barong dan Rangda pun terdapat unsur-unsur animisme dan dinamisme tersebut, karena pada adegan terakhir selalu saja ada orang yang kesurupan atau kemasukan roh-roh. Masalah umum penelitian ini adalah fenomena pesan-pesan budaya yang terdapat di balik Barong dan Rangda. Fokus permasalahan adalah (1) Bagaimana sejarah Barong dan Rangda, (2) Bagaimana proses pembuatan Barong dan Rangda, (3) Bagaimana tahapan sakralisasi Barong dan Rangda, (4) Apa pesan-pesan budaya di balik Barong dan Rangda yang meliputi estetika, simbol, mitos, dan pertunjukan. Tujuan penelitian ini adalah ingin menelusuri kembali secara lebih mendalam tentang pesan-pesan budaya pada topeng Barong dan Rangda, secara khusus penelitian ini bertujuan ingin mendeskripsikan, menginterprestasikan, dan memberi penjelasan terhadap permasalahan yang diajukan. Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan bermanfaat untuk mengisi atau memperkaya kelangkaan literatur tentang seni tradisional Indonesia. Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan Antropologi Budaya. Latar penelitian adalah Daerah Propinsi Bali, dengan pertimbangan bahwa, semua Desa Adat Pekraman di Bali memiliki Barong Ket dan Rangda, yang diyakini sebagai penjaga dan pelindung desa dari bencana atau musibah. Data dikumpulkan dengan : studi kepustakaan, obsevasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumen. Kesahihan data diperoleh dengan cara triangulasi, pemeriksaan informan, dan penilaian sesama peneliti. Data dianalisis dengan (1) reduksi data, (2) penyajian data hasil reduksi dan (3) pengambilan simpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa, (1).Asal-usul Barong dan Rangda diperkirakan sudah ada sejak abad 16, pada pemerintahan Dalem Waturunggung. Hal ini ditandai dengan adanya Karang Bhoma, ditempatkan di atas pintu atau kori agung pada Candi Paduraksa pura. Wujud bentuk barong dan rangda ini nampak ada perpaduan antara seniman jawa dengan seniman Bali dan mendapat pengaruh atau inspirasi dari Barongsae dari Cina. (2). Proses pembentukan, langkah awal yang dilakukan masyarakat adalah melakukan upacara memohon kayu atau nuwedin. Setelah kayu didapat, lalu dilakukan upacara pralina atau upacara menonaktifkan kekuatan kayu, setelah itu baru sangging dapat memulai mengerjakan memahat kayu tersebut hingga menjadi bentuk topeng dengan tahapan seperti; makalin, ngerupa, ngalusin dan, memulas. 3) Proses sakralisasi pembuatan barong dan rangda, tahapannya sebagai berikut; setelah topeng selesai, dilakukan upacara prayascita atau upacara pemelaspas, dan mengisi topeng dengan pedagingan berupa emas, perak, dan tembaga dilebur menjadi lempengan, lalu dimasukkan melalui lobang pada ubun-ubun topeng, serta langit-langit topeng dirajah dengan aksara suci Ang, Ung, Mang. Upacara selanjutnya adalah upacara pasupati yaitu menyatukan topeng dengan badannya. Upacara terakhir adalah ngerehin, yaitu upacara memasukkan roh ke dalam Barong maupun Rangda, jika masyarakat sudah melihat sinar jatuh pada tempat upacara, itu berarti barong dan rangda diyakini sudah sakral. 4) Barong dan Rangda merupakan karya seni rupa yang disakralkan oleh masyarakat. Oleh sebab itu sarat dengan pesan-pesan budaya yang terkandung di dalamnya melalui estetikka, simbol/mitos dan dalam pertunjukan. Saran yang dapat disampaikan dalam rangka pelestarian dan pengembangan Barong Ket dan Rangda ini adalah sebagai berikut ; Pertama, bentuk pertunjukan yang tergolong katagori wali, ternyata pertunjukannya terkesan apa adanya dan amat sederhana. Untuk itu maka, pertunjukkan hendaknya dapat dipersiapkan dengan baik dan kreatif, karena pertunjukan yang akan dipersembahkan kepada Hyang Widhi seharusnya karya garapan yang terbaik. Untuk itu perlu persiapan yang matang dalam persiapan pertunjukan tersebut, baik dalam bentuk gerak tari, busana/kostum, rias wajah dan sebagainya. Kedua, pertunjukan yang tergolong wali maupun bebali, hanya dipersembahkan, mana kala ada upacara panca wali atau piodalan di salah satu pura. Jika ada peristiwa gerubug atau wabah yang menyerang masyarakat, maka baru taritarian sakral ini dipertontonkan dengan tujuan untuk mengusir wabah penyakit yang menyerang masyarakat. Namun sekarang ini pertunjukan wali atau sakral ini dipertontonkan untuk kepentingan sajian pariwisata. Untuk itu saya menghimbau kepada semua pihak yang terkait seperti pejabat Depag Propinsi Bali, para tokohtokoh agama Hindu Dharma yang terhimpun dalam wadah organisasi Parisada Pusat, untuk bersepakat membuat awig-awig tentang pertunjukan Wali maupun bebali, mana yang boleh, mana yang tidak boleh dipertunjukkan di luar pura.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: budaya, karya seni, simbol dan mitos
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
N Fine Arts > NX Arts in general
Fakultas: Pasca Sarjana > Pendidikan Seni, S2
Depositing User: budi Budi santoso perpustakaan
Date Deposited: 23 May 2013 07:56
Last Modified: 23 May 2013 07:56
URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/16822

Actions (login required)

View Item View Item