PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MARJINAL YANG BEKERJA SEBAGAI PEDAGANG KAKI LIMA UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATANNYA (Studi Kasus pada Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima Semarang)

Agus Wijanarko, 3001501001 (2005) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MARJINAL YANG BEKERJA SEBAGAI PEDAGANG KAKI LIMA UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATANNYA (Studi Kasus pada Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima Semarang). Masters thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MARJINAL YANG BEKERJA SEBAGAI PEDAGANG KAKI LIMA UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATANNYA (Studi Kasus pada Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima Semarang)) - Published Version
Download (643Kb)

    Abstract

    Pemberdayaan masyarakat Marjinal yang bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima perlu dilaksanakan hal ini disebabkan ; (1) bimbingan dari pemerintah supaya mereka bekerja tidak melanggar peraturan daerah (Perda); (2) mereka membutuhkan modal untuk usaha mereka; (3) mereka membutuhkan penghubung yang bisa menjadi mediator antara Pedagang Kaki Lima dengan pemerintah. Penelitian ini berusaha mencari keterangan meningkatnya jumlah Pedagang Kaki Lima setelah adanya krisis moneter di Indonesia pada tahun 1997. Dari hasil penelitian mereka berasal dari urbanisasi dan korban PHK. Cara untuk mengatasi ketidak beruntungan mereka di sektor formal adalah dengan menjadi Pedagang Kaki Lima yang tidak membutuhkan persyaratan jenjang pendidikan tertentu untuk menjadi Pedagang Kaki Lima. Oleh sebab itu perlu adanya pemberdayaan untuk meningkatkan pendapatannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ; (1) bagaimanakah kebijakan pemerintah dan pihak ketiga, P2KP dalam memberdayakan pedagang kaki lima di Simpang Lima; (2) mengapa pedagang kaki lima tumbuh cepat di kota Semarang; (3) bagaimana pengelolaan kegiatan pedagang kaki lima; (4) bagaimanakah peningkatan pendapatan pedagang kaki lima. Penelitian ini dilakukan dengan asumsi bahwa setelah dilakukan pemberdayaan dari pemerintah melalui kelurahan, Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), maka penghasilan Pedagang Kaki Lima akan meningkat. Hal ini disebabkan karena setelah mendapat bimbingan dari kelurahan mereka berjualan sesuai dengan aturan dari Pemkot, sehingga tidak melanggar aturan Perda No. 11 tahun 2000. Dengan tidak melanggar Perda berarti mereka tidak terkena penertiban sebab dalam penertiban oleh Satpol PP, barang dagangan akan diangkut sehingga Pedagang Kaki Lima mengalami kerugian. Dengan adanya pinjaman modal dari P2KP dengan bunga pinjaman rendah maka mereka tidak terjerat pinjaman hutang sehingga ada peningkatan pendapatan. Peran LSM bagi Pedagang Kaki Lima adalah menjadi penghubung antara pemerintah dengan Pedagang Kaki Lima sehingga keinginan kedua belah pihak dapat dipenuhi. Pedagang Kaki Lima tetap boleh berjualan walaupun kawasan Simpang Lima daerah larangan untuk kegiatan Pedagang Kaki Lima, tetapi dengan syarat harus rapi, indah dan tertib. Untuk mengeksplorasi tema penelitian ini secara mendalam, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan metode wawancara, observasi serta dokumentasi berupa data-data tertulis, literatur dan lain sebagainya. Wawancara dan observasi dilakukan terhadap beberapa target responden di wilayah penelitian, yang berasal dari berbagai kalangan yang cukup merepresentasikan kondisi obyektif di wilayah penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan penggalian sesuai dengan tema penelitian, serta didukung dengan berbagai literatur yang signifikan. Selanjutnya, keabsahan data dalam penelitian ini diuji dengan ketekunan pengamatan, juga dengan mendiskusikannya dengan teman sejawat maupun ahli yang berkompeten. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisa dengan analisis kualitatif melalui beberapa tahap yakni, seleksi data, verifikasi keterkaitan antara data dengan fokus, penyajian data, menarik kesimpulan dan melaksanakan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian terdapat beberapa temuan yang dapat dipaparkan sebagai berikut; (1) setiap Pedagang Kaki Lima yang berjualan di sekitar Simpang Lima mengalami peningkatan pendapatan, artinya bila mereka sebelumnya berjualan atau berdagang tetapi tidak di Simpang Lima, maka ketika mereka pindah berjualan di Simpang Lima mengalami peningkatan pendapatan dengan jenis dagangan yang sama, atau kalau sebelumnya bekerja pada orang lain lalu menjadi Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima, maka hasilnya setiap bulan lebih banyak; (2) setiap Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima pada umumnya tidak bersedia pindah ke tempat lain; (3) para pedagang kebutuhan makan baik yang berupa warung tendah atau lesehan, pendapatannya tidak sama antara 1 juta sampai di atas 5 juta setiap bulan; (4) para pedagang buku, alat olahraga, alat musik, kaus kaki, pendapatannya antara 1 sampai dengan 2 juta setiap bulannya; (5) permodalan umumnya berasal dari orangtua, pinjaman pihak luar, atau menabung dari penghasilan sebelum menjadi Pedagang Kaki Lima; (6) untuk menjadi Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima harus mendapat persetujuan dari Walikota yang surat permohonannya diajukan melalui kelurahan tempat PKL tersebut berjualan. Selanjutnya beberapa saran yang diajukan adalah ; (1) seharusnya pemerintah memberi bantuan modal kepada Pedagang Kaki Lima; (2) berdirinya pusat perbelanjaan modern yang menyerap banyak tenaga kerja dari golongan tinggi sampai golongan rendah, dimana golongan tinggi dengan penghasilannya yang cukup belanja di swalayan, sedangkan golongan rendah penghasilannya sedikit, mereka membeli kebutuhannya di Pedagang Kaki Lima sekitar swalayan. Sebaiknya swalayan Menyisihkan sebagian lahannya untuk Pedagang Kaki Lima sebab ada keterkaitan antara pasar modern dan pasar tradisional dimana pasar modern mempunyai peran / andil dalam menciptakan pasar tradisional seperti Pedagang Kaki Lima; (3) Pemkot seharusnya memberi bimbingan kepada Pedagang Kaki Lima untuk menjaga kebersihan, pelatihan manajemen yang baik, meningkatkan mutu pelayanan dan cara penyajian makanan yang baik sehingga diharapkan ada peningkatan pendapatan Pedagang Kaki Lima

    Item Type: Thesis (Masters)
    Uncontrolled Keywords: Pemberdayaan Masyarakat Marjinal, Pedagang Kaki Lima, Peningkatan Pendapatan.
    Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions
    Fakultas: Pasca Sarjana > Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial S2
    Depositing User: budi santoso perpustakaan
    Date Deposited: 21 May 2013 00:03
    Last Modified: 21 May 2013 00:03

    Actions (login required)

    View Item