PERSEPSI TENTANG NILAI ANAK DALAM KELUARGA KAITANNYA DENGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DI KELURAHAN ARGASOKA KECAMATAN BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010

Aditya Ade Nurdianto , 3201406501 (2011) PERSEPSI TENTANG NILAI ANAK DALAM KELUARGA KAITANNYA DENGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DI KELURAHAN ARGASOKA KECAMATAN BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (PERSEPSI TENTANG NILAI ANAK DALAM KELUARGA KAITANNYA DENGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DI KELURAHAN ARGASOKA KECAMATAN BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 ) - Published Version
Download (48Kb)

    Abstract

    Pada umumnya orang tua mempunyai pandangan bahwa anak merupakan penerus keturunan sementara untuk sebagian orang tua yang lain, anak dapat merupakan sumber terjadinya perubahan (agent of change) pada gaya hidup dan struktur sosial. Anak mungkin dihargai dan dinilai sebagaimana adanya atau mungkin dipandang sebagai alat yang menguntungkan secara ekonomis dan alat penerus keluarga. Permasalahannya adalah (1) Bagaimana persepsi orang tua terhadap nilai anak dalam keluarga; (2) Adakah perbedaan persepsi orang tua terhadap nilai anak dalam keluarga berdasarkan tingkat pendidikannya. Berdasarkan permasalahan tersebut tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui bagaimana nilai anak didalam keluarga menurut pandangan orang tua; (2) Untuk mengetahui adakah perbedaan nilai anak antara keluarga yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah. Populasi penelitian adalah keluarga yang sudah mempunyai anak pada saat penelitian dilangsungkan dan berdomisili di Kelurahan Argasoka Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik stratified random sampling. Jumlah sampel yaitu 100 orang tua baik ayah maupun ibu yang ada pada saat pelaksanaan penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah (1) Tingkat pendidikan orang tua; (2) Nilai anak dalam keluarga. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara menggunakan panduan yang disiapkan sebelumnya dan merupakan penjabaran dari variabel yang akan mengungkap permasalahan penelitian. Pedoman wawancara dibuat agar wawancara langsung dengan responden maupun dengan instansi terkait dapat lebih terstruktur dan terarah. Analisis data penelitian menggunakan Deskriptif Kuantitatif dengan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai anak di dalam keluarga sangat beragam tergantung bagaimana orang tua melihatnya, dapat dilihat dari sisi ekonomi dan non ekonomi. Tingkat pendidikan orang tua memberi gambaran adanya perbedaan terhadap nilai anak di dalam keluarga. Hal ini ditunjukkan dari keseluruhan orang tua yang tidak berpendidikan (100%), memilih anak dari sisi ekonominya, dimana anak dilahirkan dan dibesarkan tidak lain dan tidak bukan yaitu untuk membantu orang tua, baik membantu pekerjaan orang tua dirumah maupun membantu pekerjaan orang tua di sawah. Orang tua yang hanya tamatan SD memilih sebagian besar anak bernilai ekonomi (80,9%) dengan alasan yang sama dan sisanya memilih anak bernilai sosial sebesar (12,7%) dan (6,4%) anak bernilai budaya. Umumnya alasan lain selain alasan ekonomi, anak dilahirkan dengan maksud agar hubungan suami istri lebih kuat, karena salah satu fungsi berumah tangga yaitu memiliki anak. Orang tua yang berpendidikan atau tamatan SMP memilih sebagian besar (87,5%) anak bernilai ekonomi, dan sisanya (12,5%) memilih anak bernilai sosal. Orang tua berpendidikan atau tamatan SMA memilih sebagian besar (61,9%) anak bernilai ekonomi, 23,8% bernilai sosial, 14,3% bernilai budaya. Nilai budaya dari anak terungkap dari beberapa orangtua yang berpendapat bahwa anak diperlukan keberadaanya untuk melanjutkan nama atau tradisi keluarga. Sedangkan orang tua yang berpendidikan lebih tinggi yaitu lulus Perguruan Tinggi maupun Akademi memilih (100%) anak bernilai sosial, yaitu anak diperlukan keberadaanya bukan untuk membantu pekerjaan atau diharapkan bantuannya di kemudian hari, melainkan seorang anak adalah tanggung jawab orang tua untuk membesarkan dan membimbing serta membantu anak sampai anak mampu membangun hidupnya sendiri kelak, tanpa mengharap apapun dari seorang anak. Pendidikan diharapkan dapat memberi corak terhadap orang tua dalam memberikan alasan terhadap nilai anak yang dimiliki. Pemerintah daerah dalam hal ini mengkondisikan orang tua agar sadar bahwa penting meningkatkan pendidikan baik formal maupun non formal pada masyarakat, agar mengerti benar hal apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya dalam memiliki anak, khususnya masyarakat di daerah penelitian. Peningkatan pendidikan formal dapat dilakukan melalui sekolah-sekolah, dan peningkatan pendidikan non formal dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi pendidikan Keluarga Berencana (KB) dan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan cara mengadakan penyuluhan dan bimbingan teknis masyarakat pada warga masyarakat daerah penelitian.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Uncontrolled Keywords: persepsi, nilai, nilai anak
    Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General)
    Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Geografi, S1
    Depositing User: S.Kom Heru Setyanto
    Date Deposited: 29 Aug 2012 04:00
    Last Modified: 29 Aug 2012 04:00

    Actions (login required)

    View Item