Fenomena Kesurupan dalam Pertunjukan Kesenian Ebeg (Kuda Kepang) Wahyu Mukti Budaya Dusun Krapyak Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas.

Endah Sugiprihatin , 2502407014 (2012) Fenomena Kesurupan dalam Pertunjukan Kesenian Ebeg (Kuda Kepang) Wahyu Mukti Budaya Dusun Krapyak Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

[img]
Preview
PDF (Fenomena Kesurupan dalam Pertunjukan Kesenian Ebeg (Kuda Kepang) Wahyu Mukti Budaya Dusun Krapyak Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas.) - Published Version
Download (36Kb)

    Abstract

    Kesenian Ebeg adalah kesenian daerah Banyumas yang menggunakan properti jaranan (eblek). Kesenian Ebeg tidak lepas dengan unsur mistis, karena pada saat pertunjukan penari akan mengalami kesurupan (intrance). Hal tersebut tidak lepas dari peran seorang penimbul dan sesaji yang digunakan dalam pertunjukan. Kesurupan merupakan ciri khas dan klimaks dari pertunjukan Ebeg. Pada saat kesurupan akan ditampilkan atraksi-atraksi yang di luar batas wajar manusia. Nilai lebih dari pertunjukan Ebeg yaitu pada saat kesurupan, oleh karena itu tanpa adanya kesurupan kesenian Ebeg tidak memiliki karakter. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena kesurupan dalam babak indhang kethek yang terjadi pada pertunjukan kesenian Ebeg di Dusun Krapyak Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mendiskripsikan fenomena kesurupan dalam kesenian Ebeg. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, karena upaya pembahasan permasalahan dilakukan dengan menggambarkan atau menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan suatu keadaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi terhadap grup kesenian Kuda Kepang Wahyu Mukti Budaya, wawancara dengan penimbul mengenai bagaimana cara menyembuhkan penari pada saat kesurupan dan dokumentasi dalam bentuk foto dan video kesenian Ebeg baik dari dokumen peneliti maupun dokumen yang dimiliki grup kesenian Ebeg. Analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan kesenian Ebeg terdiri dari lima babak, yaitu babak prapertunjukan, babak prajuritan, babak janturan, babak indhang kethek dan babak penyembuhan. Munculnya fenomena kesurupan dimulai pada saat babak janturan. Dimana dalam babak janturan terdapat satu babak yang menarik yaitu babak indhang kethek. Saat kesurupan penari melakukan gerakan diluar kesadarannya dan melakukan berbagi macam atraksi berbahaya. Penimbul memiliki peran sebagai perantara antara penari dan indhang (roh) yang merasuki sehingga dalam pertunjukannya bisa terkontrol. Iringan yang digunakan yaitu gending-gending berlaras slendro, diantaranya Eling-eling Banyumasan, Senggot, Ricik-ricik Banyumasan dan lain-lain. Peneliti juga menyarankan kepada: 1) Para seniman kesenian Ebeg diharapkan tetap mempertahankan kesenian Ebeg agar tetap eksis dengan cara membentuk generasi penerus dan pada bagian kesurupan, indhang diberi waktu lebih lama melakukan atraksi sehingga memberi sajian yang memuaskan, 2) Kepala Desa Lumbir diharapkan senantiasa memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian kesenian Ebeg dengan memberikan dukungan dan pembinaan secara berkelanjutan, 3) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas agar selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadap kesenian Ebeg supaya keberadaannya tetap lestari, dan dapat dikembangkan secara luas, dengan menyertakan kesenian Ebeg dalam kegiatan budaya baik tingkat kabupaten maupun sebagai utusan daerah pusat di iven-iven Nasional-Internasional.

    Item Type: Thesis (Under Graduates)
    Subjects: N Fine Arts > NX Arts in general
    Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, S1 (Pendidikan Seni Tari)
    Depositing User: budi santoso perpustakaan
    Date Deposited: 21 May 2012 00:04
    Last Modified: 21 May 2012 00:04

    Actions (login required)

    View Item