Cerita Warawurcita Karya Cakradireja Dalam Perspektif Semiotiktodorov

Aji Nurkhayati, 2102405610 (2012) Cerita Warawurcita Karya Cakradireja Dalam Perspektif Semiotiktodorov. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

Abstract

Nurkhayati, Aji. 2012. Cerita Warawurcita Karya Cakradireja Dalam Perspektif Semiotiktodorov. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: I Yusro Edy Nugroho, S.S,M.Hum. Pembimbing II. Drs. Hardyanto Kata kunci: semiotik, Todorov, Simbol, Makna, Warawurcita Warawurcita merupakan karya sastra moderen yang berbentuk prosa namun ditulis dalam betuk tembang macapatan. Warawurcita merupakan karya Cakradirja yang diterbitkan oleh Balai Pustaka sekitar tahun 1925. Cerita Warawurcita terdapat beberapa peristiwa yang mengandung makna yang tersirat dan tersurat Tokoh-tokoh dalam cerita mempunyai sifat yang mengandung ajaran moral. Teks cerita secara umum bertema perjuangan hidup seorang yang ingin mencapai cita-cita. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah struktur cerita dalam teks cerita Warawurcita berdasarkan teori Semiotik model Todorov? Penelitian ini bertujuan mengungkap struktur cerita Warawurcita dalam perspesktif semiotik model Todorov. Teori yang digunakan adalah teori strukturalisme semiotik Todorov, yaitu berdasarkan aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif dengan menggunakan metode struktural semiotik. Data yang digunakan sebagai dasar penelitian ini adalah wacana teks yang berupa peristiwa-peristiwa. Hasil analisis cerita Warawurcita dengan teori strukturalisme semiotik model Todorov dapat diambil kesimpulan makna yang dilihat dari ketiga aspeknya. Aspek sintaksis terdiri dari tiga yaitu urutan spasial, urutan logis dan temporal. Urutan spasial peristiwa dalam cerita Warawurcita diurutkan dari awal Subada masih kecil hingga Subada meninggal dunia. Urutan logis membentuk hubungan sebab akibat yakni perjuangan Subada dari kecil hingga mencapai kedudukan yang diinginkan untuk menjadi seorang priyayi. Urutan Temporal berisi paparan peristiwa pada cerita Warawurcita. Aspek semantik menghasilkan makna cerita yang diperoleh dari beberapa peristiwa dalam cerita. Hasil analisis yang diperoleh dari unsur sintagmatik yaitu jika seorang mempunyai ilmu walaupun menjadi penggembala akan ada wibawanya, orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anaknya, ketika diberi pekerjaan hendaknya tidak pilih-pilih dan melaksanakannya dengan tulus, mencari ilmu adalah kewajiban tidak ada batasan umur, mendapatkan kepercayaan dari pemimpin kepada bawahanya, apabila ada kesempatan sebaiknya tidak disia-siakan, hidup rukun dengan sesama, kematian merupakan berakhirnya usaha manusia. Unsur paradigmatik menghasilkan tiga simbol yaitu simbol kepatuhan, simbol kegigihan, simbol rendah hati. Penyampaian cerita Warawurcita bersifat lugas sehinggga unsur in praesentia lebih banyak dibandingkan unsur in absentia. Aspek verbal yaitu dapat dilihat melalui kehadirannya, dalam cerita Warawurcita adalah pencerita primer yang melaporkan cerita secara deskriptif dan melaporkan peristiwa melalui dialog, pencerita primer hadir sebagai pencerita intern yaitu pada kata “sireku”, dan pencerita sekunder yaitu pencerita hadir sebagai tokoh ayah ketika menasehati dengan menggunakan kata “aku”. Ragam bahasa yang digunakan dalam cerita Warawurcita terdiri dari purwakanthi sastra dan purwakanthi swara. Purwakanthi sastra yang ditemukan dalam cerita yaitu senenge kalangkung, nunggang jaranan balungkang (pupuh I, 9) terdapat pengulangan konsonan /ng/ dan /k/, Nuli ngudi kang kinardi (pupuh II, 1) terdapat aliterasi pada konsonan /k/ dan /d/, ambudi ngudiya karyati (pupuh V, 11) pengulanganya pada konsonan /d/ dan /y/, Sewan saringgit sasasi (pupuh XII, 1) adanya aliterasi pada konsonan /s/, dan aliterasi pada Trima tampa pametu (pupuh XXVIII, 8) yakni /t/ dan /m/. Purwakanthi swara yaitu bisa ngrimat luluhure, ngluluri jamaning kuna (pupuh XIII, 17) adanya pengulangan vokal /u/ dan /a/, Umur telung puluh punjul rong warsi (pupuh XIV, 1) terdapat asonansi vokal /u/, ajejel uyel-uyelan pengulangan vokal pada huruf /e/ dan /a/. Majas yang digunakan dalam cerita Warawurcita adalah majas simile terdapat kata kadya dan lir , majas tautologi terdapat kata manut nurut yang mempunyai arti kata yang sama, dan majas antonomasia terdapat pada kata Lurah Purwacatur untuk menggantikan sebutan kepada ayah Subada. Berdasarkan hasil penelitian cerita Warawurcita karya Cakradireja diharapkan dapat menerapkan ajaran sikap dan perilaku tokoh yang baik terdapat dalam simbol dan makna dalam cerita Warawurcita.

Item Type: Thesis (Under Graduates)
Uncontrolled Keywords: semiotik, Todorov, Simbol, Makna, Warawurcita
Subjects: P Language and Literature > PI Oriental languages and literatures > PI1 Indonesia > Pendidikan Bahasa dan Sastra
P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Fakultas: Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (S1)
Depositing User: Hapsoro Adi Perpus
Date Deposited: 09 May 2012 22:47
Last Modified: 09 May 2012 22:47

Actions (login required)

View Item